Monday, April 3, 2017

Solusi Kreatif : Pengolahan Limbah Batik Ala Mahasiswa FTP UB


Kerajinan batik merupakan salah satu sektor industri kreatif yang berpotensi untuk berkontribusi dalam perekonomian bangsa. Mengingat peran batik yang telah menjadi identitas bangsa dan harus di lestarikan, maka tak heran jika banyak tempat produksi batik yang saling bersaing untuk membuat batik. Banyaknya usaha yang memproduksi batik ini membuat limbah cair yang dihasilkan juga banyak seiring dengan produktivitasnya. Limbah cair ini sering dibuang begitu saja tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu. Dari sinilah Tim Awast  berinovasi untuk membuat alat pengolahan limbah batik. Awast sendiri merupakan nama singkatan  Automatic Waste Treatment. Tim ini membuat inovasi alat berupa teknologi pengolahan air limbah batik aplikatif dan solutif berbasis automatisasi sistem.
Tim Awast beranggotakan 5 orang mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya yang terdiri dari Fidyah, Nestya, Zahwa, Rezita, Fajar telah mengakui bahwa kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan menjadikan motivasi awal untuk membuat teknologi ini. Awast bimbingan Endrika Widyastuti, SPt. MSc. MP dijadikan salah satu solusi untuk mengolah air limbah hasil pewarnaan batik yang diharapkan air hasil limbah ini bisa digunakan kembali untuk pewarnaan batik. Tim Awast memilih UKM Batik Blimbing sebagai mitra dari penggunaan alat Awast. Tingginya kadar BOD,COD, dan TSS pada UKM Batik Belimbing sangat cocok untuk dilakukan treatment menggunakan Awast.
Awast didesain khusus menyerupai lemari yang terdapat rak-rak di dalamnya untuk mengolah limbah cair batik yang aplikatif dan solutif dengan menerapkan sistem koagulasi, sedimentasi, dan adsorpsi dengan menggunakan prinsip automatisasi sistemyaitu sebuah autotimer pemindahan air dari chamber ke chamber selanjutnya. AWAST tersusun dari komponen yang ramah lingkungan dan mudah untuk digunakan sehingga AWAST merupakan tekbologi pengelolaan limbah cair yang aplikatif diterapkan untuk usaha kecil menengah.
Bahan baku dari alat Awast ini yaitu bioball, kultur bakteri, tawas, batu zeloit, arang aktif yang nantinya akan dimasukkan ke dalam setiap rak penampungan. Bioball digunakan sebagai rumah kultur bakteri agar nantinya bakteri membuat biofilm di bioballnya dan dapat mendegradasi komponen limbah tersebut. Kemudian tawas digunakan untuk mengendapkan limbah batik. Arang aktif dan batu zeloit digunakan untuk tahap penyaringan yang nantinya diharapkan bisa menghasilkan air yang bersih. Air bersih ini digunakan untuk pencucian kembali batik dari UKM Belimbing yang ada di Kota Malang.
Sumber : tp.ub.ac.id

Penanganan Limbah Cair Menggunakan Ampas Kopi


Peneliti di Italia menemukan fungsi baru bagi ampas kopi kering. Berton-ton ampas kopi itu diinfuskan ke dalam busa penyaring. Lalu, karet busa itu dimasukkan ke dalam kolam air yang tercemar logam berat.
Para peneliti dari ACS Sustainable Chemistry and Engineering ini menemukan bahwa ampas kopi punya senyawa kimia yang bisa menyerap logam berat seperti merkuri dan timah. Kedua senyawa logam berat itu berbahaya bagi ekosistem dan konsumsi air makhluk hidup. Jelas tidak layak pakai apabila ada air yang tercemar limbah merkuri dan timah.
Pembuatan busa penyaring itu melalui beberapa tahap. Mula-mula, mereka mengeringkan ampas kopi espresso dari kedai kopi menjadi bubuk, lalu dicampurkan dengan silikon dan gula. Setelah dicampur dan didiamkan beberapa lama, mereka memasukkannya ke dalam air, untuk menanggalkan campuran gulanya. Ini berguna untuk menciptakan lubang-lubang penyerap.
Ketika mereka memasukkan potongan-potongan busa penyaring ke dalam kolam air tercemar, mereka mengukur tingkat konsentrasi kandungan logam berat setiap detik. Hasilnya, setiap potong busa mampu menyerap 67 persen logam berat dalam waktu 30 menit. Meski begitu, solusi pembersihan limbah logam berat menggunakan ampas kopi masih perlu disempurnakan lagi.
Dr. Fragouli, kepala peneliti di ACS mengatakan, uji coba ini bisa dibuat dalam skala yang lebih besar untuk menanggulangi limbah-limbah air di seluruh dunia. Saat ini, langkah yang mereka ambil adalah menyelerasakan antara pengusaha kedai kopi dengan industri pembuang limbah merkuri dan timah.
Tercatat, setiap tahun, industri kopi dari yang mikro hingga makro memproduksi sekitar 6 milyar ampas kopi. Fragouli mengatakan pihaknya berencana akan membuat busa dengan ukuran yang lebih besar.